jump to navigation

Pengalaman Pertama Memelihara Koi

Di awal bulan Juni 2011 aku telah selesai membangun sebuah kolam kecil di halaman belakang rumah. Sebenarnya, di awal perencanaan kolam tersebut akan diisi dengan ikan mas yang harganya murah. Memang sih nantinya akan aku isi dengan ikan koi.

Akan tetapi, aku tergiur juga untuk langsung mengisi kolam tersebut dengan ikan koi. Aku juga mengindahkan saran dari beberapa orang agar kolam tersebut di rendam terlebih dahulu selama dua minggu tanpa ikan. Dan akhirnya, oleh karena tidak sabar, kolam tersebut langsung aku isi dengan ikan koi setelah aku pakai berenang bersama anakku sehari sebelumnya. Awalnya aku beli ikan koi seharga 50.000 rupiah yang berukuran sedang (10 – 15 cm) sebanyak 3 ekor ditambah dengan ikan koi kecil (di bawah 10 cm) sebanyak 4 ekor. Tujaunku membeli ikan koi kecil adalah agar aku dapat mengamati perkembangan koi-koi kecil itu sampai besar.

Sehari kemudian aku beli 4 ekor koi yang lebih besar (20 – 25 cm). Aku baru sadar setelah beberapa hari bahwa koi-koi kecil yang telah aku beli membawa bibit penyakit, setelah dua ekor koi-koi kecil tersebut mengalami masalah kesehatan dengan cara berenang dipermukaan, tidak mau makan dan lesu. Akibatnya, sekitar dua hari kemudian hampir semua koi yang ada di kolamku terjangkit penyakit.

Kemudian salah satu koi aku tangkap dan terlihat bahwa di badannya telah tertempel parasit anchorwarm (berdasarkan cirri-ciri yang aku temui mirip dengan yang ditunjukkan oleh Mbah Google). Bukan hanya itu, beberapa koi lainnya juga menunjukkan gejala bintik-bintik putih dan beberapa di antaranya memperlihatkan kulit yang kemerahan, sirip berwarna putih dan agak sedikit rusak, tidak mau makan dan loyo.

Aku tidak tahu persis apa yang telah menjangkiti ikan-ikan tersebut, mungkin penyakit komplikasi, kayaknya sih… Untuk tahu persisnya, internet menyarankan untuk memeriksanya lewat mikroskop, ah… please deh, kagak punya aku mikroskop di rumah.

Treatment yang sudah aku lakukan selama dua minggu selama rentang waktu serangan tersebut adalah memberikan dimilin powder untuk menghilangkan anchorwarm seperti yang di sarankan oleh Mbah Google. Aku tidak tahu persis apakah berhasil atau tidak, tapi yang jelas aku sudah kehilangan dua koi setelah treatment dimilin powder ini di hari ketiga penanganan.

Saran lain yang aku terima adalah dengan pemberian garam untuk menangani bakteri dan jamur, ini pun memberikan hasil negatif karena sehari kemudian aku kehilangan dua ekor koi lagi.

Akhirnya, aku membeli JBL punktol di Acehardware yang katanya produksi Jerman. Pruduk ini pun aku beli karena tergiur setelah membaca penggunaanya yang tertulis di label kemasannya ketika aku mencari barang lain di Acehardware. Sesuai petunjuk penggunaannya, aku aplikasikan obat tersebut ke dalam kolam, eh… malah aku kehilangan dua ekor koi ku yang berukuran besar, capek deh…. Mungkin obat Jerman ini hanya cocok untuk koi Jerman kali ya.

Setelah menginjak hari ketiga treatment JBL punktol di atas, koiku tersisa 4 ekor, satu ekor dengan kondisi yang cukup mengenaskan dengan bintik putih seperti korengan di badan dan ekor yang seperti digerogoti sesuatu. Hanya 3 koi berukuran sedang (Tancho, Kohaku Ginrin dan Platinum) yang pertama kali aku beli, yang masih dapat berenang dengan riang, namun demikian masih terlihat beberapa bintik putih dan kemerahan berukuran kecil di beberapa bagian badannya.

Waktu itu, mau ganti air kolam juga susah karena Jet pump di rumahku lagi rusak, dan masih proses instalasi Jet pump baru. Sekali lagi capek dech…. Instalasi Jet pump ini membutuhkan waktu sekitar seminggu sampai kembali mengalir karena ditinggal pergi tukangnya. Setelah itu jet kembali normal, akhirnya kolam aku kuras habis dan aku ganti seluruh airnya. Beberapa hari kemudian aku kehilangan Kohaku Ginrin.

Jadi ikan koi terakhir yang tersisa adalah dua ekor. Beberapa hari kemudian aku beli beberapa ekor lagi. Setelah mengalami kejadian-kejadian di atas kolam terlihat menjadi lebih stabil (tidak terlalu banyak ikan yang sakit). Tapi beberapa kasus ikan loncat yang kemudian menjadi santapan kucing juga terjadi.

Gambar di bawah memperlihatkan tiga ekor koiku yang sedang terjangkit oleh penyakit dan sedang berada di akuarium karantina. Secara berurutan dari kiri ke kanan (dari yang paling jauh ke yang paling dekat) adalah kohaku, sanke dan Shushui. Ketignya berukuran 5 – 10 cm. Kohaku dapat sembuh secara total dan tumbuh menjadi ukuran sekitar 15 cm, namun tiga bulan kemudian terkena penyakit lagi dan akhirnya tewas. Sankenya tidak dapat terselamatkan ketika terjangkiti penyakit ini. Shushui (terlihat dengan kondisi sakit paling parah) dapat sembuh secara total, sehat wal afiat, bersih dan semua siripnya telah kembali normal setelah hampir sebulan di karantina. Shushui ini saat sekarang telah berukuran sekitar 20 cm. 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: